Kamis, 20 Januari 2011

biografi Tokoh-Tokoh Dunia(Pengusaha)


Biografi Bob Sadino
 
             Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Pengusaha asal Indonesia yang kerap dipanggil om Bob ini terkenal sukses berbisnis di bidang pangan dan peternakan, Bob adalah bos dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Meski ia sering terlihat mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang sudah dikenal menjadi ciri khas seorang Bob Sadino, kepiawaiannya dalam berbisnis patut menjadi contoh.
Siapa sebenarnya Bob Sadino? Di keluarga mana ia dilahirkan? Dan, bagaiamana kisah perjalanan hidup Bob Sadino hingga sukses seperti sekarang? Berikut biografi singkat dari Bob Sadino.
Lahir di keluarga kaya
Bob Sadino lahir pada 9 Maret 1933 di sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Bungsu dari lima bersaudara ini mewarisi kekayaan keluarganya pada usia 19 tahun setelah orang tuanya meninggal. Kala itu, ia menerima warisan karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap mapan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Menetap di Indonesia
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia bersama pasangan hidupnya, Soelami Soejoed yang ia temui di Belanda. Ia membawa serta 2 Mercedes buatan tahun 1960-an miliknya. Salah satu mobil mewah tersebut ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara mobil satunya tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama: Sopir
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, dan menjadi sopirnya. Suatu ketika ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob kemudian beralih pekerjaan menjadi tukang batu dengan gaji saat itu hanya Rp.100.

Setelah menerima warisan keluarga, Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia lalu singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana ia pun sempat bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman.
Mulai berbisnis telur
Seorang teman pada suatu hari menyarankan Bob untuk berbisnis telur ayam negeri untuk keluar dari depresinya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Di Indonesia saat itu, ayam kampung masih mendominasi pasar.
Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bagaikan seorang salesman biasa, Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga telur ayam negeri tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri.
Berkat kerja keras Bob, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Tidak berhenti sampai disana, Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.
Prinsip Bob Sadino
Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli.
“Tahu merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa. Sedangkan “bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Sedangkan “terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar